Yang paling ironis, perang sarung sering dilakukan justru saat Ramadan. “Ramadan adalah bulan suci untuk beribadah, memperbaiki diri, dan meningkatkan ketakwaan. Tapi ironisnya, ada yang malah isi Ramadan dengan perang sarung yang penuh kekerasan. Ini sangat bertentangan dengan semangat Ramadan,” kata Kasi Humas dengan prihatin.
“Ramadan mengajarkan kita untuk menahan diri, mengendalikan emosi, dan menjaga perilaku. Tapi perang sarung justru memicu kekerasan, emosi, dan perkelahian. Ini adalah kontradiksi yang sangat tidak pada tempatnya,” ungkap AKP Verry.
Humas Polres Simalungun mengajak masyarakat untuk mengisi Ramadan dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. “Yuk, kita isi Ramadan kali ini dengan kegiatan yang lebih bermanfaat: tadarus Al-Quran, shalat tarawih, kajian agama, santunan anak yatim, buka puasa bersama, dan kegiatan sosial lainnya. Ini jauh lebih bermakna daripada perang sarung,” kata Kasi Humas mengajak.
“Untuk anak muda yang biasanya ikut perang sarung, coba alihkan energi kalian ke kegiatan positif: olahraga yang sehat, kompetisi hafalan Quran, lomba adzan, bakti sosial, atau kegiatan pemuda masjid. Ini jauh lebih bermanfaat dan lebih dihargai,” tambah AKP Verry memberikan alternatif.




