Namun, apa yang dimulai sebagai permainan sering berakhir dengan cedera serius. “Yang awalnya main-main, sering kali jadi serius. Ada yang terpukul terlalu keras sampai luka, ada yang tersinggung dan membalas dengan lebih keras, akhirnya jadi perkelahian massal. Sudah banyak kasus perang sarung yang berujung pada penganiayaan bahkan tawuran,” kata Kasi Humas menjelaskan eskalasi.
“Cedera yang ditimbulkan dari perang sarung bisa sangat serius: memar, luka robek, patah tulang, bahkan ada yang sampai masuk rumah sakit. Ini bukan lagi permainan, ini sudah jadi tindak kekerasan yang membahayakan,” tambah AKP Verry menekankan bahaya.
Selain cedera fisik, perang sarung juga mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat. “Perang sarung biasanya dilakukan di jalan-jalan, di kampung-kampung, bahkan di depan rumah warga. Suara teriakan, kegaduhan, dan perkelahian sangat mengganggu ketenangan warga. Apalagi kalau dilakukan malam hari saat orang sedang istirahat atau beribadah,” ungkap Kasi Humas.
“Ada juga kasus dimana perang sarung melibatkan orang-orang yang tidak terlibat. Misalnya ada warga yang lewat tiba-tiba kena pukulan sarung, atau ada anak kecil yang ikut-ikutan dan terluka. Ini sangat tidak bertanggung jawab,” tambah AKP Verry memberikan contoh.




