“Ini yang menarik,” ujarnya.
Menurutnya pula ada ketidak hati-hatian dalam putusan itu bahkan mungkin tidak terlalu jauh para pengambil keputusan dalam hal ini hakim dalam melihat suatu aturan.
Terdakwa, katanya, dikatakan bersalah telah melakukan tindak pidana korupsi karena dianggap menguntungkan pihak lain dalam hal ini PT Palapa Wahyu Grup (PWG) Pasir Panjang Singkawang yang diberikan oleh Pemkot Singkawang yang mana diatas HPL diberikan HGB.
Dalam pernyataan hakim, mengatakan bahwa dengan pemberian HGB diatas HPL ini maka yang bertanggungjawab dalam hal ini adalah ibu Walikota Singkawang yang sekarang.
“Apakah memang ibu Walikota Singkawang ikut bertanggungjawab atas HGB itu, pertanyaan saya siapa yang berwenang mengeluarkan HGB? Sementara HGB itu yang mengeluarkan adalah BPN bukan Walikota,” ucapnya.
Sehingga logika hukum mengatakan, jika memang pengeluaran HGB itu salah maka yang bertanggungjawab adalah BPN. Maka BPN lah yang harus bertanggungjawab bukan institusi lain.
“Karena yang memiliki kewenangan mengeluarkan HGB adalah BPN,” katanya.




