Bukan Sekadar Besaran, tetapi Formula dan Dasar Pembayaran Harus Dibuka
Menurut pengamat, persoalan utama bukan semata-mata mengenai angka Rp6 juta, melainkan dasar hukum, formula perhitungan, penerima, pertanggungjawaban, serta output yang dihasilkan dari setiap rupiah anggaran negara.
Dapur yang menghasilkan 2.000, 2.500, maupun 3.000 porsi memang mempunyai kebutuhan operasional berbeda. Namun, perbedaan tersebut semestinya dihitung secara transparan berdasarkan biaya riil, standar pelayanan, jumlah penerima manfaat, dan komponen biaya yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, perubahan dari skema flat Rp6 juta menjadi berbasis volume produksi dinilai belum otomatis menyelesaikan persoalan apabila komponen biaya tersebut ternyata masih tumpang tindih dengan anggaran Rp15.000 per porsi.
“Yang harus dihitung bukan hanya berapa porsi yang diproduksi. Pemerintah harus membuka berapa biaya bahan makanan, tenaga kerja, distribusi, utilitas, penyusutan, dan biaya operasional lainnya. Dari sana masyarakat dapat melihat apakah insentif tambahan memang diperlukan atau justru menjadi pemborosan,” tegasnya.




