“Beliau meninggal karena sakit. Baru lima tahun kematiannya, pasukan Belanda baru berani datang ke Kerajaan Raya untuk memaksa puteranya Tuan Kapultakan Saragih mengakui kekuasaan Belanda atas tanah Simalungun,” sambung Pemuka Masyarakat Simalungun ini.
Sementara itu Prof. Bungaran mengatakan bahwa Rondahaim Saragih patut diajukan sebagai pahlawan nasional, meski kerap dianggap hanya berandil di daerah Simalungun dalam menghalau serangan Belanda. “Kita harus ingat, membangun Indonesia itu harus dari daerah,” pungkasnya saat di muka acara.
Adapun Suprayitno menambahkan bahwa Rondahaim punya sikap yang konsisten, tegas, dan pantang menyerah. Sikap-sikap ini membuat Rondahaim disegenai dan dipatuhi oleh rakyat. Selain itu, kata dia, Rondahaim selalu menolak surat undangan Residen Sumatera Timur untuk berunding, “Beliau juga tidak pernah kompromi dengan penjajah. Rondahaim juga menolak tawaran Belanda menjadi ‘Raja Besar’,” ujarnya.
Di samping kegigihannya, lanjut Suprayitno, jangkauan perjuangan Rondahaim juga berdampak di luar Simalungun. “Bukan cuma ke Medan, tapi juga ke Batavia. Bahkan di Negeri Belanda menjadi pembicaraan di parlemen Belanda,” lanjutnya.




