Disana ada seorang dosen yang bernama Harbi Ahmad, beliau sangat benci kepada ajaran pesantren dan beliau berpaham wahabi. Kemudian setelah itu beliau kembali ke Sumatera Barat untuk belajar ke UIN Padang Panjang Fakultas Ushuluddin selama satu setengah tahun sambil mengajar di pesantren Tarbiyah Jaho.
Kemudian melaju ke Malaysia dan disana beliau mendapat jatah untuk berangkat ke Madinah , karena semangat dan keinginan belajar yang sangat luar biasa, sedangkan pembelanjaan tidak ada maka beliau mencari tempat untuk istirahat dengan meminang anak Abuya Labaisati yang bernama Hayatun Nufus .
Maka terjadilah dialog antara beliau dan Abuya Labaisati. Akhirnya Abuya Labaisati dan anaknya menyetujui dengan syarat bahwa harus disetujui oleh seluruh ninik mamak dan terjadilah dialog lagi yang panjang membicarakan mengenai Syari’at dan hakikat.
Abuya Labisati adalah orang yang sangat alim dan paham mengenai syari’at dan hakikat ini,sedangkan beliau (Abuya Syekh H.Amran Wali Al-Khalidi) pada masa itu belum kali alim akhirnya beliau jatuh sakit , kemudian beliau dibawa ke Padang Panjang Jaho dalam keadaan kaki dan tangan diikat, diserahkan kepada dukun dan dimasukkan ke dalam kolam, apa bila muncul ke atas maka kepala akan di lempar dengan batu , maka oleh karena itu beliau dijemput oleh neneknya Tgk. Bahron.




