“Lebih tidak mudah lagi manakala harta yang telah diraih itu,yang merupakan ketergantungan dan kecintaan jiwa dari kantong untuk membiayai diri demi rukun Islam yang agung ini,belum lagi kesiapan jasmani di mana modal utamanya adalah sehat,dibutuhkan Jihad melawan kecintaan berlebihan kepada harta agar jiwa rela dan lapang mengorbankannya demi kebaikan dan permasalahan dirinya sendiri,”jelas Sang Ustad.
Dibutuhkan pula, lanjutnya Jihad melawan kecintaan berlebihan pada sikap santai dan rehat,sebab Haji memang mengharuskan kelelahan,baik kelelahan perjalanan dan kelelahan pelaksanaan kaum muslimin yang salat Idul Adha.
Mari tengok lebih dalam kepada aturan dan tatanan manasik haji,disana akan didapatkan pendidikan jihad agar jiwa menghormati dan menghargai batasan-batasan Allah,menahan diri dengan tidak melanggarnya.

“Seperti kita ketahui,haji ditunaikan dalam keadaan ihram,terdapat pantangan-pantangan yang harus dijaga seperti pakaian ikhram,mencukur rambut,memotong kuku,membunuh hewan buruan,memakai minyak wangi,bersetubuh,menikah dan menikahkan,semua ini adalah perkara-perkara yang mungkin dalam pandangan sebagian orang begitu sepele.”tuturnya dalam salah satu khutbahnya.




