Selain mengganggu mobilitas, jalan rusak juga berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Beberapa penghuni yang memiliki usaha rumahan mengaku mengalami penurunan pelanggan karena akses yang sulit dan tidak nyaman.
Warga juga menyebutkan bahwa kondisi ini menyulitkan kendaraan darurat seperti ambulans atau mobil pemadam kebakaran untuk masuk ke area perumahan.
Mereka khawatir jika terjadi keadaan darurat, penanganan akan terhambat akibat akses jalan yang buruk.
Sebagian warga mulai mempertimbangkan ,akan melakukan Konsultasi Hukum Kepada Advokat atau Profesi Pengacara dan selanjutnya akan melaporkan permasalahan ini kepada pemerintah daerah Kabupaten Simalungun. Mereka berharap ada campur tangan pihak berwenang untuk menekan pengembang agar segera melakukan perbaikan.
Tidak sedikit warga yang merasa dirugikan karena sebelumnya dijanjikan fasilitas dan infrastruktur yang layak saat membeli rumah. Janji tersebut dinilai tidak ditepati oleh pihak Pengembang hingga saat ini.
Aksi protes warga pun mulai bermunculan, mulai dari penyampaian aspirasi secara kolektif hingga rencana pemasangan spanduk sebagai bentuk kekecewaan terhadap pengembang.




