“karena adanya tekanan dari Calon Bupati petahana, para pimpinan SKPD merasa takut hingga mengharuskan jajarannya untuk turut mendukung dan memenangkan RHS-AZI, dan ini akan memicu kemarahan besar bagi warga atau kalangan yang menginginkan agar Pilkada mendatang harus terselenggara dengan jujur dan adil, jadi akan berpotensi menimbulkan kericuhan dan konflik di lapangan,” ujar Sabar yang juga menjabat Ketua DPD II Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) kabupaten Simalungun.
Sabar menilai bahwa kedua Paslon memiliki pengaruh besar di kabupaten Simalungun, sehingga jika proses Pilkada tidak dilaksanakan dengan netral, jujur dan adil, kericuhan sangat berpotensi terjadi.
“Radiapoh merupakan calon Petahana sehingga dia berharap bahwa jajaran ASN dan perangkat nagori Simalungun itu harus berada di pihaknya dan ini lah ketidaknetralan itu, sedangkan Anton juga merupakan Tokoh yang dikenal di kabupaten Simalungun dan merupakan abang (Saudara) dari mantan Bupati Simalungun 2 periode sebelum Radiapoh dan ini pun memiliki kekuatan yang besar,” pungkas Sabar.




