Saya juga bilang pada mereka,jika memang Kehutanan mengeluarkan objek lahan tersebut untuk dikelola kelompok tani masyarakat sekitar mungkin perusahaan pun siap melepaskan, namun harus digaris bawahi CV.Jaya Anugerah bukan pemilik pertama pada lahan,status lahan tersebut sebelumnya dibeli oleh Hamlet Lubis dari Masyarakat sekitar,setelah beberapa tahun dijual kepada Palar Nainggolan,dan oleh Palar Nainggolan sekira tahun 2006 dijual kepada Aseng Petani, sempat beberapa tahun dikelola oleh Aseng Petani selajutnya dijual kepada CV Jaya Anugerah sekitar tahun 2021 hingga saat ini,dan kelas mereka memiliki seluruh dokumen SKT lahan tersebut,jadi jangan kita korbankan mereka “ungkap RN.
Soal disebut merusak tanaman milik masyarakat,saya juga masih memiliki rasa keprimanusian, seperti yang saya katakan tadi bahwa antara Bosar Nauli dan Buntu Turunan itu masih memiliki ikatan yang erat,jika tidak untuk apa dimasa masa Covid 19 kemarin kita sering berbagai sembako di Bosar Nauli, banyak loh warga Bosar Nauli itu yang kita bina agar bisa mandiri,itu karena mereka sudah saya anggap keluarga dan merasa sependeritaan, makannya adapun yang kami jonder itu lahan yang udah rusak dimakan ternak lembu,kalau yang masih bagus dan akan segera panen tetap dibiarkan,cuman kita berikan waktu bagi mereka untuk menyelesaikannya”tandasnya.




