Hasil diskusi di semua sesi tersebut menjadi rumusan deklarasi yang berisi gambaran situasi kondisi HAM, temuan saat diskusi, dan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah serta pemangku kepentingan lainnya. Harapannya, deklarasi rekomendasi yang disampaikan
akan ditindaklanjuti secara konkret oleh pemerintah daerah dan pusat.
Menariknya, masyarakat luas juga akan diajak untuk merasakan dan mempelajari
langsung makna toleransi dan inklusivitas yang menjadi tema besar festival ini. Hal ini dilakukan melalui kegiatan jalan-jalan ke tempat-tempat yang mencerminkan toleransi dan keberagaman yang kental di Kota Singkawang, yaitu area Masjid Raya dan Pekong Tua.
Selain itu, ratusan anak sekolah dan publik lainnya akan mengikuti toleransi kampanye dan sosialisasi anti-bullying sebagai bentuk penanaman nilai HAM sejak dini pada anak bangsa.
Festival HAM merupakan forum berbagi pengalaman praktik baik dalam
penghormatan, perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan HAM yang
diselenggarakan pada suatu daerah sebagai tuan rumah. Kegiatan ini diselenggarakan oleh International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Komisi Nasional Hak Asasi
Manusia (Komnas HAM), dan Kantor Staf Presiden (KSP) RI, bersama Pemerintah Kota Singkawang dalam rangka mengekspresikan kebijakan dan praktik HAM di daerahnya. Terpilihnya Kota Singkawang sebagai tuan rumah Festival HAM merupakan hasil perjuangan segenap pemangku kepentingan dan masyarakat di Kota Singkawang
menjadikan Kota Singkawang sebagai kota yang menempati peringkat pertama Indeks Kota




