Saat dia berdiri terus ditonjok perutnya sampai kena ulu hatinya sampai susah lagi bernapas. Saya tidak terima anak kandung saya dibegitukan,”bebernya.
Selain dipukul dengan tangan, anaknya juga cerita pernah dipukul pakai gantungan baju oleh kakak kelasnya.
“Saya juga sangat kecewa dengan sikap Ponpes Izzatuna yang tidak bertanggung jawab bahkan terkesan menutupi kejadian tersebut. Untuk saya meminta ponpes membuka kasus ini sejelas-jelasnya dan semestinya bersikap tegas serta menaruh perhatian. Anak saya mengalami trauma psikis. Sampai sekarang tidak mau sekolah, dia takut, trauma, itu yang sangat saya khawatirkan,” ujarnya.
Sementara itu, Ryan Gumay SH, CHRM, CTL kuasa hukum keluarga korban, menyayangkan pengakuan Ponpes Izzatuna menyatakan kejadian sebenarnya bukan penganiayaan melainkan terlapor yakni NA hanya mencengkram kerah baju korban.
“Pihak Ponpes dan orang tuanya terduga pelaku mengatakan hanya memegang kerah baju saja. Faktanya dalam perawatan di RS Bhayangkara dari keterangan orang tua korban ditemukan beberapa bukti (luka). Salah satunya dibagian bokong. Ada juga pengakuan korban soal lambungnya dipukul, kemudian dicekik dan lain sebagainya,” ujar dia.




