“Bukan patah, kalau istilah kita di sini terburkat. Mungkin karena tanahnya lemah, ya tebing dan cor-coran pondasinya terangkat dan tumbang,” paparnya.
Dia sendiri berharap ambruknya tebing yang kini kembali dikerjakan mereka, tidak menjadi pandangan buruk, terlebih dugaan-dugaan negatif lainnya. Tetapi jika dicari kesalahan, mungkin tidak akan luput dari itu.
“Kalau mau dicari kesalahan, senyum saja kita mungkin bisa dianggap salah. Pastinya, tebing yang ambruk itu sekalian ikut pondasinya terangkat. Mungkin disebabkan tanah disebelahnya longsor,” sebut Setiadi lagi.
Amatan di lokasi, cor-coran semen tebing yang ambruk terlihat masih terdampar di pinggir sungai Aek Katia.
Tanah longsoran yang sebagiannya menutupi pinggir sungai, jauh lebih dalam dibanding dengan dinding bahu jalan lama di mana bekas sambungan tebing yang dibangun.
Sejumlah pekerja melakukan pemasangan tiang dari batangan pohon sebagai antisipasi semakin longsornya tanah yang menghubungkan ke pangkal jembatan. (Koko Wan)




