Dilanjutkan Setiadi, nilai kontrak bukan hanya untuk pembangunan tebing, melainkan ada beberapa titik pengerjaan fisik lainnya, seperti pembuatan beronjong di pinggir sungai Aek Katia yang posisinya berdekatan dengan tebing jembatan.
Sehari sebelum ambruk, Setiadi telah melihat tanah bagian atas pondasi mulai tergerus akibat hantaman air sungai meluap akibat tingginya curah hujan. Bahkan ia berencana membangun beronjong tepat di bawah tebing yang dibangunnya sebagai antisipasi.
“Aku udah lihat pondasi mulai tergerus, rencananya mau dibangunkan beronjong sebagai penahan air biar tidak langsung menerjang tebingnya,” ujar Setiadi.
Ditanya dugaan berbagai pandangan tumbangnya tebing yang masih dikerjakan mereka akibat lemahnya pengawasan dinas terkait dan mutu, Direktur CV Jamakat sedikit membantah.
Sebab, sambungnya, tebing yang mereka bangun bukanlah ambruk karena patah atau lainnya, melainkan akibat tanah bagian bawah pondasi tergerus, sehingga tebing atau dinding ambruk berikut hingga cor-coran pondasi.




