Warga menilai wajah ketertiban di kawasan tersebut sudah semakin memprihatinkan. Trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki berubah menjadi area dagang liar. Bahu jalan dipenuhi parkir semrawut dan lapak yang membuat akses kendaraan menyempit hingga memicu kemacetan setiap hari.
Akibat kondisi itu, masyarakat kecil justru menjadi korban utama. Anak-anak sekolah terpaksa berjalan di badan jalan, pengendara terjebak kemacetan panjang, risiko kecelakaan meningkat, dan lingkungan terlihat kumuh tanpa ketegasan nyata dari pemerintah.
“Pertanyaannya sederhana, kenapa pelanggaran yang terlihat terang-terangan setiap hari seperti dibiarkan hidup bertahun-tahun? Kalau pemerintah punya aturan, punya Satpol PP, punya aparat, lalu kenapa kondisi tetap seperti tidak bertuan?” ujar warga dengan nada geram.
Masyarakat juga mulai mempertanyakan apakah lemahnya penegakan aturan terjadi karena ketidakmampuan aparat atau justru adanya tekanan kepentingan tertentu yang membuat pemerintah terlihat tidak berdaya menghadapi kondisi di lapangan.




