Wartawan dan Komunitas
Lebih jauh Yusuf menjelaskan, AK PWI Pusat telah berlangsung sejak HPN 2016 di Lombok, NTB. Dari sekitar 50 bupati/walikota “alumni” Anugerah Kebudayaan PWI Pusat ini, antara lain Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang kini jadi Gubernur Jawa, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kini mantan Menteri PANRB, Wali kota Surabaya Eri Cahyadi. Ada pula yang dianulir karena tertangkap KPK.
Pada tahun kesepuluh ini, selain kategori bupati/wali kota, ditambah satu kategori rintisan, yaitu “Wartawan dan Komunitas”. Kategori ini menitik beratkan pada kinerja jurnalistik dan kegiatan seni budaya yang digeluti paling kurang selama 10 tahun, dengan dampaknya nasional hingga internasional. Mereka mendaftar dengan mengirim proposal, CV, copy kartu pers, bukti tulisan, foto/video kegiatan, dan piagam-piagam. Selain dari bebagai daerah di Pulau Jawa, pesertanya juga dari Pulau Sumatera.
Dewan Juri telah menetapkan tiga wartawan senior yang akan menerima penghargaan ini. Masing-masing Rahmi Hidayati (Tangsel) mantan wartawan Bisnis Indonesia,yang berkiprah sebagai Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) yang turut mengangkat kebaya meraih warisan tak benda dunia UNESCO. Seno Joko Suyono (Jakarta/Bekasi), mantan wartawan Tempo, dengan komunitas Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF), dan Henri Nurcahyo (Surabaya) penggerak komunitas Panji dengan jaringannya sampai Asia dan internasional, serta turut berjuang sehingga Panji meraih warisan dunia tak benda dunia UNESCO.(R2p)




