Cerita yang sebenarnya menurut Roberton Nainggolan,terkait penggarapan lahan milik CV.Jaya Anugerah tepatnya di Blok Vll (tujuh) yang dilakukan sekumpulan petani yang dikomandoi Nelson Manurung, pihak perusahaan telah melakukan Dumas melalui Polsekta Tanah Jawa,selanjutnya telah dilakukan 3 kali mediasi namun pihak penggarap tidak pernah menghadiri bahkan tidak peduli atas undangan pihak kepolisian, adapun pertama dilakukan di kantor perkebunan CV.Jaya Anugerah, selanjutnya 2 kali di Polsekta Tanah Jawa,mengingat tidak ada itikad baik penggarap dalam perihal undangan mediasi, akhirnya pihak perusahaan berupaya mengamankan lahannya dengan memasukkan jonder untuk pengolahan lahan.
Ketika dilakukan pengolahan, ternyata ditemui dilokasi penggarap bernama Leo Saragi, oleh Leo menelepon Nelson Manurung dan langsung datang ke lokasi, awalnya Roberton Nainggolan masih memberikan peringatan pada Nelson Manurung agar tidak memperdayakan masyarakat demi ambisi pribadinya.

“Saya justru mengingatkan dia atas tindakannya merugikan masyarakat kok malah diplesetkan arogan,perlu diketahui antara Nagori Buntu Turunan dengan Bosar Nauli saling berkaitan,karena selain satu lahan pertanian,ikatan kekeluargaan dan kekerabatan pun masih kental pada 2 Nagori ini,dari itu banyak yang mengeluhkan pada saya soal ulah Nelson Manurung ini yang diduga telah mengelabui masyarakat dengan mengutip uang pendaftaran 110.000 rupiah pada anggota kelompok tani dengan iming iming akan mendapatkan 1 Hektar lahan garapan per anggota,awalnya masyarakat yang bergabung dalam kelompok tani penggarap ini mencapai 80 lebih,namun setelah mereka tahu yang digarap lahan CV.Jaya Anugerah,akhirnya para penggarap sadar dan mundur,sehingga kini tinggal beberapa Perangkat Nagori dan Maujana Nagori Bosar Nauli karena Nelson Manurung ini satu pekerjaan dengan mereka”Ungkap Roberton menjelaskan kejadian sebenarnya di lapangan.




