Pengunggah video menambahkan narasi pada video yang dibagikannya. “Apakah masih layak DPRD seperti ini dipilih lagi? Kalau gak mau dikritik ya jangan jadi anggota dewan buk,” tulisnya.
Sri Kumala juga membantah telah memarahi mahasiswa di depan warga. Apalagi peristiwa itu disebut sebagai bentuk arogansi, dia menepis hal itu.
“Bahwa kegiatan yang ada di desa Si Jawi-jawi itu menurut saya tidak benar (disebut arogan). Kenapa, bahwa di waktu awal sebelum saya buka kegiatan reses itu saya ada memperjelaskan kepada seluruh peserta bahwa yang namanya reses itu ada aturan,” kata Sri Kumala.
Ia mengatakan selama mengelar reses, banyak warga yang keluar masuk ke dalam acara bahkan datang saat pertengahan kegiatan sehingga situasi reses tidak kondusif. Adapun lokasi reses di Desa Sei Jawi-jawi tersebut, diketahui memang digelar di tengah tanah lapang terbuka.
“Yang ujung-ujungnya (warga yang hadir) hanya (datang saat) mengambil momen acara yang dikatakan ada bagi-bagi makanan. Itulah yang dari awal saya minta kesepakatan bersama,” ujarnya. (Darmawan)




