Dua pengecualian adalah genre folk, yang menyukai kokain, dan jazz, yang sangat cocok dengan acid (LSD). Beberapa musisi jazz bahkan mencap suara mereka sebagai “acid jazz”, mengacu pada subgenre yang dikenal memasukkan unsur soul, funk, dan disko.
Berikut rinciannya:
Rock: ganja, kokain, LSD
Pop: ganja, ekstasi, kokain
Jazz: LSD, ganja, ekstasi
Hip-hop: ganja, kokain, meth
Folk: kokain, ganja, pil
Elektronik: ganja, kokain, acid
Country: ganja, kokain, meth
Genre lainnya: ganja, kokain, pil
Metode pengumpulan data dilakukan dengan menghimpun 1,09 juta lagu dari berbagai sumber dan menganalisis liriknya terkait penyebutan narkoba, narkoba yang terlibat, dan bagaimana perubahannya dari waktu ke waktu.
Para peneliti mengungkapkan bahwa gaya musik tertentu memang cocok dengan efek obat-obatan tertentu. Amphetamine misalnya, sering disandingkan dengan musik yang cepat dan berulang.
Hal itu karena narkoba jenis ini memberikan rangsangan yang memungkinkan orang berdansa dengan cepat. Kecenderungan MDMA (ekstasi) untuk menghasilkan gerakan berulang dan perasaan senang melalui gerakan dan tarian banyak dijumpai pada beberapa individu.




