Pada saat hampir bersamaan, ini menyangkut partai lain lagi, mereka yang terlibat konflik berkepanjangan malah mengaku lelah. Mereka memilih bersatu.
Mereka menyapa satu sama lain sebagai sahabat, dalam nada guyon disebut sebagai teman berantam. Mereka bersatu untuk menatap masa depan. Politik yang membelah, tapi juga bisa menyatukan itu sarat dengan hiruk-pikuk. Yang gampang jadi rumit, yang transparan jadi gelap, dan yang gelap menjadi misteri.
Ujung-ujungnya, jika kepentingan berbeda bertemu pada satu titik, tiba-tiba semua melihat cahaya di mulut lorong yang gelap. Politik sebagai panggung sandiwara itu mudah berubah, seperti kata lagu, karena ada peran wajar, ada pula peran berpura-pura.
Dengan meminjam tabiat berbeda karakter ketika berada di panggung depan dan panggung belakang. Biasanya di panggung depan itu kebanyakan politikus mengenakan topeng, muka digincu, dan kata ditata agar elok dipandang.
Itu pada saat mereka mampu menjaga akal waras. Lain lagi kalau tampil adanya apa, bukan apa adanya tanpa merawat akal waras.




