Di dalam rumah, tidak terlihat ada perabotan mewah dan tidak memiliki kamar tidur. Pakaian yang baru saja diangkat dari jemuran, masih terlihat tertumpuk.
Menurut Rosmala, dirinya sangat berkeinginan memiliki rumah layak huni seperti warga lainnya. Apalagi, mereka sempat disambangi petugas dan berjanji akan dibangunkan rumah layak huni.
“Sudah tujuh tahun kami tinggal di sini. Dulu orang Baitul Mal pernah datang, bahkan sudah dua kali mereka survey, tetapi sampai saat ini belum juga ada hasil,” ungkapnya.
Diakuinya, mereka tidak akan mampu untuk memperbaiki rumahnya. Penghasilan suaminya belum mampu menalangi kebutuhan renovasi itu, jikapun ada hanya mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Dia juga mengkhawatirkan usia anak gadisnya yang semakin remaja. Jika nantinya menemui jodohnya, mereka semakin kebingungan akan berbuat apa.
“Satu anak kami sudah gadis, bila nanti ada jodohnya, kami tidak tahu harus bagaimana,” ujarnya.
Dijelaskannya, bukan hanya atap rumah saja yang tampak miris, dinding bangunan terbuat dari tepas bambu nampak sudah bolong dan sangat rapuh, sehingga broti penyangga terlihat.




