“Peristiwa tersebut mengajarkan kepada kita bahwa santri bukan hanya penjaga nilai-nilai agama, melainkan juga bagian penting dari perjalanan bangsa,” ujar Wabup. Beliau menegaskan bahwa mengenang jasa para pendahulu tidak cukup hanya dengan seremoni, tetapi harus dilanjutkan lewat pengabdian dan kontribusi nyata bagi negara.
Menatap visi Indonesia Emas 2045 saat Indonesia genap berusia 100 tahun, bangsa ini membutuhkan sumber daya manusia unggul yang berakhlak mulia dan berdaya saing. Wabup mendorong para santri agar tidak membatasi diri dan percaya diri mengambil peran di berbagai bidang.
“Santri tidak boleh merasa kecil dan tidak boleh membatasi diri. Santri bisa menjadi apa saja, mulai dari ulama, ilmuwan, pendidik, pengusaha, hingga pemimpin bangsa, selama terus belajar, bersungguh-sungguh, dan mengabdikan ilmunya bagi kemajuan Indonesia,” tuturnya.
Ia juga mengutip pepatah terkenal dari dunia pesantren, “Man jadda wajada” (barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil), untuk memotivasi seluruh santri agar terus berinovasi dan berkarya.




