“Saya mengajak kepada seluruh tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama melawan tindakan premanisme di wilayah masing-masing, bersama-sama bergandengan tangan dalam menjaga situasi yang aman dan kondusif,” tegas Pendeta Tonggo Sitompul.
Lebih lanjut, tokoh agama ini menegaskan bahwa premanisme bukanlah bagian dari budaya masyarakat Simalungun khususnya, bahkan seluruh masyarakat Indonesia. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya menolak segala bentuk tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi kebersamaan dan gotong royong.
“Buang premanisme, itu bukan budaya masyarakat Simalungun khususnya, bahkan semua masyarakat se-Indonesia. Buang semua egois di dalam diri, utamakan kepentingan bersama, horas,” ungkap Pendeta Tonggo Sitompul dengan tegas, mengakhiri pernyataannya dengan salam khas Batak yang mencerminkan semangat persaudaraan.
Apresiasi dari tokoh agama ini sejalan dengan komitmen Polri yang terus berupaya maksimal dalam menjaga ketertiban masyarakat. Operasi Kepolisian Kewilayahan yang digelar secara nasional telah menunjukkan hasil positif dalam menekan angka premanisme dan menciptakan efek jera bagi para pelaku.




