Selain itu, dalam bidang kebudayaan, Dek Fadh menyatakan komitmennya untuk mewujudkan pusat kebudayaan Islam dan Aceh melalui pendirian Syiah Kuala Islamic Center sebagai pusat tamaddun (peradaban).
“Syiah Kuala Islamic Center akan menjadi pusat kebudayaan Islam dan Aceh yang mengangkat nilai-nilai budaya lokal dan sejarah keislaman di Aceh. Kami berharap pusat ini akan menjadi tempat pengembangan intelektual, seni, dan budaya yang berakar pada tradisi Aceh,” jelasnya.
Dialog ini bertujuan untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi Aceh dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan kepemudaan, serta memetakan proyeksi pembangunan ke depan.
Kegiatan ini juga mengundang pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2025-2030 untuk berbagi pandangan strategis terkait arah pembangunan di ketiga bidang tersebut.
Mahfudz Y. Loethan, juru bicara pasangan calon Mualem-Dek Fadh, mengungkapkan apresiasinya atas terselenggaranya dialog ini.
“Momentum ini merupakan kesempatan bagi pasangan calon kami untuk menyampaikan gagasan perubahan di tengah civitas akademika UIN Ar-Raniry. Kami ingin mendorong kebijakan yang mendukung pengembangan pendidikan, kebudayaan, dan kepemudaan Aceh, yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” ucapnya.




