“Kita berharap kampung Pancasila dapat melahirkan output kepada peningkatan kecerdasan masyarakat khususnya anak usia dini, serta aktualisasi Pancasila untuk membentuk pribadi yang unggul,” bilang Nasir Wadianshan SH.
Kemudian, tambah dia, secara proporsional program ini menjurus kepada pengembangan budaya Pancasila, yang juga di inginkan dapat menghasilkan intelektual dan spiritual dalam penjabaran sosial untuk menghasilkan kecerdasan emosional.
Menurut penulis, ada satu konsentrasi yang mungkin bisa disebut ‘Keren’, ketika Pemerintah dengan seluruh stakeholder bersinergi dalam membuat peraturan, berupa pemasangan Naskah Pancasila disetiap rumah masyarakat. Kondisi ini dulunya pernah ada, namun sampai sekarang sudah mulai terlupakan.
Coba kita telusuri saja, saat ini dapat ditaksir sekitar lebih kurang 75% masyarakat tidak lagi memiliki foto Pancasila dirumahnya. Jangankan foto Naskah Pancasila, gambar Presiden dan Wakil Presiden saat ini saja mungkin terbilang tidak ada.
Dapat di yakini, kita pasti berfikir, untuk apa foto naskah Pancasila itu dipajang di dinding rumah? Coba kita bayangkan, berapa banyak anak usia dini yang akan melihat dan membaca gambar seekor burung Garuda dengan 5 Sila, yang dapat dibeli hanya seharga Rp. 10.000,- saja perlembarnya.




