Oleh karena itulah, kata Sukarna Putra, wajah Asia Tenggara berhasil diubah oleh Samudra Pasai yang terawal dan diikuti oleh beberapa kerajaan lainnya yang menganut konsep yang sama. “Mereka semua mampu mengubah kepercayaan masa klasik (Hindu-Buddhis) ke wajah Rahmatan lil ‘Alamin, yakni Islam, mengikuti konsep Samudra Pasai,” ungkapnya.
Sukarna Putra memaparkan beberapa sifat yang melekat pada sosok Sultan Al Malik Ash Shalih yang terekam pada batu nisan bagian selatan pusaranya. Yakni, At-Taqiy (yang bertaqwa), An-Nashih (pemberi nasihat), Al-Hasib (yang berasal dari keturunan terhormat), An-Nasib (yang terkenal), Al-‘Abid (ahli ibadah), dan Al-Fatih (sang pembebas).
Dalam sejarah Islam, kata Sukarna Putra, kita tidak asing lagi dengan gelar Al-Fatih milik dari Sultan Utsmani, Muhammad Al Fatih pada pertengahan abad ke-15 Masehi yang berhasil membebaskan Konstantinopel. “Tapi sungguh, sekira 200 tahun sebelum itu, di Asia Tenggara telah hadir sosok Al Fatih yang kiprahnya dalam menerima serta mengembangkan Islam untuk kawasan yang sangat luas,” ujarnya.




