Ronny menduga, pengganjian yang minim terhadap nakes kontrak selama ini ada kaitannya dengan cara pandang pemerintah sebagai pengambil kebijakan dalam hal menghargai profesi tersebut.
” Memang mereka pegawai kontrak dan bakti, tapi apa pantas sebulan cuma dapat gaji ratusan ribu, bisa buat apa segitu? sementara tenaga mereka dipakai sedemikian rupa siang dan malam, tentunya cara pandang pemerintah
dalam hal menghargai profesi ini patut dipertanyakan?” ujar Ketua Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Provinsi Aceh tersebut.
Dia mengaku heran atas alasan pemerintah soal kekurangan anggaran untuk menggaji para nakes tersebut, sebab sudah menjadi rahasia umum, jika dicurigai banyak proyek dan program – program lainnya yang justru kebanjiran anggaran seperti berbagai program
bimtek ke luar daerah.
” Heran aja kita, buat hal lain ada duitnya, proyek ini – proyek itu, bahkan bimtek ke luar daerah miliaran duitnya ada, padahal kita belum tahu hasilnya itu apa? nah ini buat yang memang jelas – jelas penting, anggarannya kurang? gaji perawat ratusan ribu, gaji dan tunjangan pejabat jutaan, bahkan puluhan juta, apa itu adil?” ketus putera Idi Rayeuk tersebut.




