
Beberapa ulama tersebut mendirikan pesantren dan madrasah, sebagian lagi mempelopori pendirian universitas seperti Universitas Islam Sumatera Utara dan Universitas Al Washliyah.
Mereka mewariskan khazanah ilmiah yang kini menjadi manuskrip – manuskrip keislaman yang monumental.
Ulama-ulama Sumatera Utara kontemporer bahkan merupakan merupakan murid-murid terbaik dari ulama-ulama Sumatera Utara tempo dulu seperti, Ustadz Adnan Lubis, Muhammad Arsyad Thalib Lubis, Nukman Sulaiman, Bahrum Djamil, dan tentu saja Ramli Abdul Wahab yang berguru dengan banyak ulama termasuk dengan Tok H.M.Arsyad Haitami tamatan Makkah.
ANAK DESA TAK BERTUAN
Ramli Abdul Wahid lahir di desa Sungai Lendir pada tanggal 12 Desember 1954, Sungai Lendir bukanlah desa yang tergambar di benak orang banyak, tapi desa yang banyak dipahami sebagai kota kecil atau paling tidak desa urban.
Sebab di desa ini pada waktu itu, terdapat kedai-kedai kopi, tukang jahit, toko kelontong, toko pakaian, tukang sepeda dan tauke (tokeh-tokeh) kelapa.
Tokeh kelapa artinya tokeh-tokeh pembeli kopra untuk dikeringkan, setelah kering di jemur, dijual ke pabrik minyak di Tanjung Balai.




