Selain rendahnya dari diskursus politik, ada berbagai faktor yang menjadi penyebabnya. Mulai dari kinerja, regulasi, dan keterbatasan informasi yang didapat dari penyelenggara pemilu bahkan ketidakpercayaan kepada partai politik sebagai peserta pemilu menjadi problematika partisipasi anak muda terhadap politik.
Setidaknya, program pendidikan kesadaran politik yang dilakukan secara kontinu dan konsisten menjadi perhatian khusus para penyelenggara maupun peserta pemilu kepada para pemilih agar melek politik dan berpikiran terbuka sehingga diharapkan mampu menyebarkan dan menjaga nilai toleransi atas persaingan politik dan pemilu dimaknai sebagai sarana integrasi bangsa.
Pendekatan berbasis metode digitalisasi yang efektif dengan membawa pesan atau informasi yang lengkap juga memiliki dampak yang signifikan, karena pemilih muda sangat peduli terhadap pandangan, opini dan pendirian dari peserta pemilu maupun penyelenggara.
Cara penyampaian informasi atau kampanye politik digital yang kurang efektif akan menyebabkan mereka tidak tertarik dan tidak memilih dalam pemilu.(M.Tahan)




