“Kami ingin mengidentifikasi kembali lahan dan petani Kako di Aceh Tamiang. Jumlah tanaman kakao berkurang, namun harganya di pasaran selalu stabil”, ungkap Edwar.
Berdasarkan survei, Edwar menuturkan saat ini inventaris lahan kakao di Kecamatan Seruway hanya 5,5 Ha.
“Semoga selanjutnya ada pemanfaatan lahan kosong untuk tanaman kakao. Kita ingin memunculkan kembali tanaman ini dengan harapan bisa mempengaruhi perubahan ekonomi masyarakat”, jelas Edwar.
Beberapa waktu lalu, Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang berperan sangat penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Dengan dasar ini, Forum Kakao Aceh (FKA) juga turut ingin membangkitkan kembali dan mengembangkan perkebunan kakao. Ini dibuktikan dengan adanya wacana FKA melakukan sosialisasi kepada para petani se-Aceh yang akan dilaksanakan di Kabupaten Aceh Tamiang dalam waktu dekat.
Sosialisasi ini diikuti Koordinator BPP Seruway, Bambang Sri Sugiantoro, para Penyuluh Pertanian dan staf BPP setempat serta masyarakat/petani tanaman kakao di Kecamatan tersebut. (Wartawan Wiwin Hendra)




