آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Rasul (Muhammad) beriman kepada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka juga berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali.” jelas ustad Madyan
Mengikuti Nabi kita tercinta, kita juga harus mengadopsi sikap ini. Apa pun yang diperintahkan atau tidak dilakukan oleh Tuhan kita yang Maha Penyayang dan Nabi kita Muhammad, kita harus mendengarkan dan menaatinya kata ustadz madyan
Yang Kedua, menerima saran
Baru setelah dinasihati oleh Nabi Musa (saw), Nabi kita Muhammad kembali memohon kepada Allah untuk mengurangi jumlah shalat. Ini menunjukkan bahwa dia terbuka untuk menerima nasihat . Dia menerima nasihat Musa yang tulus dan penuh harapan jelasnya



