Sebagaimana diketahui bahwa seluruh kandidat Ketum PBNU merupakan ulama yang wajib dihormati. Menurut Edy, tidak etis jika ada pihak yang mendeklarasikan dukungan ke salah satu ulama, sehingga terkesan menafikan ulama lain.
“Kita harus ingat bahwa semua kandidat adalah kiai-kiai kita yang wajib dihormati semuanya. Maka su’ul adab/tidak etis rasanya kalau kita melakukan deklarasi dukungan kepada salah satu kiai sebagai calon Ketum PBNU. Sehingga seakan-akan menafikan kiai lainnya yang juga calon Ketum PBNU,” terang Edy.
Edy mengatakan, lumrahnya setiap pengurus NU hingga tingkat daerah tentu memiliki kecendrungan ke salah satu kandidat. Tentu kecenderungan ini berdasarkan pertimbangan utama yakni kemaslahatan jam’iyyah NU.
“Tetapi lebih indah rasanya jika kita simpan dahulu dalam hati dan tidak kita umbar di ranah publik. Pada saat Muktamar nanti barulah kita pilih Ketum yang kita yakini dan kita percayai mampu menjadi nahkoda kapal besar NU ini,” tutur Edy.
“Marilah kita bersabar menunggu Muktamar berlangsung dengan senantiasa memohon kepada Allah SWT agar memberikan yang terbaik kepada jam’iyyah NU demi ‘izzul islam wal muslimiin fiddunya wal akhiroh,” harap Edy.




