Nusantara Netizen
18 Oktober 2026 | 15:59 WIB
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • INDEKS
  • TRENDING
  • PERISTIWA
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • LINGKUNGAN
  • INDEKS
  • TRENDING
  • PERISTIWA
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • LINGKUNGAN
No Result
View All Result
Nusantara Netizen
No Result
View All Result
  • INDEKS
  • TRENDING
  • PERISTIWA
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • LINGKUNGAN
Home ARTIKEL

Parada Harahap: Sejarah Hidup si Raja Media Pembela Para Kuli

by Redaksi
29 Agustus 2021 | 21:59 WIB
in ARTIKEL, NASIONAL
A A
0
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Nusantara Netizen

Dalam khazanah pers Indonesia prakemerdekaan ada beberapa nama pelopor yang masyhur. Dimulai dari Tirto Adhi Soerjo sebagai biang pers bumiputra dengan terbitan Medan Prijaji-nya. Lalu ada Lanjumin Datuk Tumenggung si pemilik media terbesar Hindia Belanda Neratja. Atau wartawan Djamaludin Adinegoro yang terkenal dengan reportasenya ke Eropa.

Meski demikian jangan lupakan nama Parada Harahap. Di antara tokoh-tokoh itu, Parada adalah yang paling produktif memproduksi media. Juga dikenal sebagai salah satu wartawan yang punya nyali mewartakan kebobrokan kolonialisme.

Seturut Ensiklopedi Jakarta buku II (2005: 419), Parada adalah putra Batak kelahiran Asahan, 15 Desember 1899. Sebagai anak keluarga biasa, ia hanya sempat mengenyam Gouvernamentschool Twee de Klasse yang setingkat sekolah dasar. Namun begitu Parada kecil dikenal sebagai autodidak dan punya ketajaman ingatan. Ditambah dengan kepercayaannya dirinya yang besar, ia kemudian tumbuh jadi wartawan.

Soal pilihan hidupnya memasuki dunia kewartawanan ada juga asal-usulnya. Sebagaimana dijelaskan Toebagus Lutfi dalam laporan penelitian bertajuk King of the Java Press (PDF), semula Parada adalah seorang pembaca. Kebanyakan bacaannya adalah koran atau majalah yang dikirim kakaknya dari Bukittinggi.

“Kebiasaan membaca inilah yang nantinya menjadikan landasan bagi Parada Harahap, mengapa pada akhirnya ia demikian mencintai dunia pers dan publisistik,” tulis Toebagus, seperti di kutip tirto.id.

Kerani Berdaya Ingat Tajam

Parada tak langsung terjun ke jurnalistik begitu tamat sekolah. Ia mengawali karier profesionalnya sebagai kerani alias juru tulis. Kala itu, di usia 15, ia diterima kerja di onderneming alias perusahaan perkebunan Rubber Cultuur Mij. Amsterdam di Sungai Karang.

Itu pekerjaan yang lumayan baginya. Dari mula bergaji 10 gulden, dalam sembilan bulan gajinya sudah naik jadi 35 gulden. Kariernya pun cepat melesat. Ketika ia pindah kerja di Onderneming Sungai Dadap, Asahan, ia sudah jadi kepala kerani dan dipromosikan jadi Asisten Kebun—jabatan tertinggi yang bisa dicapai seorang bumiputra.

“Ia mendapat gaji sebesar itu karena majikannya menilai ia mempunyai daya ingat luar biasa, disiplin, cakap berkerja, rajin dan sangat teliti dalam pelaksanaan tugas,” tulis M. Sjafe’i Hassanbasari dalam “Parada Harahap, the King of Java Press” yang terbit di Kompas (16/11/1992).

Berbarengan dengan masa kerjanya di Onderneming Sungai Dadap, Parada merintis jalannya ke arah jurnalistik. Di sela-sela kerjanya ia menulis untuk majalah De Krani, media informasi di kalangan juru tulis. Lain itu, ia juga kerap menulis untuk koran Pewarta Deli dan Benih Merdeka.

Gara-gara tulisan, karier gemilang Parada di onderneming pupus. Ia menulis tentang keculasan para bos di onderneming dan ketidakadilan penerapan Undang-Undang Kuli. Salah satunya tentang poenale sanctie yang melegalkan perusahaan menghukum atau mendenda kulinya yang dianggap tidak disiplin.

“Selanjutnya Parada juga mempertanyakan, mengapa mereka diperbolehkan membawa senjata tajam, sementara para kuli dilarang membawanya. Akibat artikel inilah karier Parada sebagai krani di onderneming Belanda dicopot,” tulis Toebagus.

Usai karier keraninya pupus, sempat tak terdengar kabar dari Parada. Siapa nyana, ternyata ia pindah ke Padang Sidempuan merintis karier sebagai kuli tinta penuh waktu. Dalam “Mengenang Seorang Tokoh Pers Kita: Parada Harahap” yang terbit di harian Kompas (15/12/1979) Amir Husin Daulay mencatat pada 1919 Parada sudah jadi redaktur kepala di harian Sinar Merdeka dan mingguan Poestaha yang berbahasa Batak.

Tapi dasar Parada terlalu bernyali. Lagi-lagi ia mesti kehilangan pekerjaan gara-gara tulisannya bikin merah kuping kolonialis Belanda.

“Di sana, lagi-lagi ia kena persdelik. Kali ini sampai dua kali dan berakibat matinya Sinar Merdeka,” tulis Amir.

Dari 1919 hingga 1922, setidaknya dua kali Parada kesandung delik pers. Ia sempat mendekam di penjara selama enam bulan. Tapi gara-gara reportasenya yang sering menyudutkan Belanda, ia juga dapat dukungan dari rakyat. Mereka yang bersimpati sampai rela berdemonstrasi ke rumah Asisten Residen dan mendesak pembebasan Parada.

Jadi “Raja” di Jawa

Agaknya dewi keberuntungan Parada tak bersemayam di Sumatra. Dan memang, ia mendapat jejuluk raja media bukan di tanah kelahirannya, tapi di Jawa yang baru ia tapaki pada awal 1922.

Ia tiba di Jawa bersama istrinya dan memulai semuanya dari nol. Amir Husin Daulay mencatat Parada pertama kali jadi kuli tinta di harian Sin Po. Tak berapa lama ia lalu mendapat posisi redaktur kepala di media terbesar di Hindia Belanda masa itu, Neratja.

“Tepat 9 bulan kemudian ia mengeluarkan mingguan miliknya sendiri Bintang Hindia, hasil dari tabungannya,” tulis Amir.

Dari titik inilah kemudian peruntungannya berubah. Ia kini bukan lagi sekadar wartawan, tetapi juga pengusaha surat kabar. Bersama Metzelaar, pemilik percetakan De Unie, Parada menerbitkan beberapa media lain yang kian membesarkan namanya.

Kerajaan medianya dimulai dari pendirian kantor berita Algemene Pers en Nieuws Agentschaap alias Alpena. Kemudian berturut-turut ia bikin mingguan Bintang Timur, Jawa Barat, Sinar Pasundan, Semangat, dan De Volks Courant yang berbahasa Belanda.

Di antara semuanya, Bintang Timur adalah yang paling moncer dan berpengaruh. Dari mulanya mingguan, ia berkembang jadi harian. Menurut Toebagus Lutfi, salah satu faktor yang bikin Bintang Timur meroket adalah tulisan-tulisan Dokter Rivai, seorang tokoh pers yang cukup berpengaruh kala itu.

“DR. Rivai sering mengirimkan karangannya secara teratur dari Eropa, tempat ia bertugas. Dengan cara tersebut harian ‘Bintang Timur’ dapat memberikan informasi dan pendidikan yang lebih maju dan luas, tentang berbagai perkembangan dari belahan dunia lain,” tulis Toebagus.
Demikianlah julukan The King of Java Press itu berasal. Tapi, mengutip kalimat Tony Stark di film Avengers: Endgame (2019): part of the journey is the end, masa jaya itu nyatanya juga punya akhir. Agaknya Parada punya kelemahan di bidang manajemen finansial dalam menjalankan perusahaannya. Pada 1935 ia bangkrut gara-gara utang 35.000 gulden.

“Ia kumpulkan modal untuk kembali menerbitkan sebuah harian yang baru. Pada tahun 1935 terbitlah Tjaja Timoer sebuah harian selebar saputangan. Ia cari berita sendiri, tulis sendiri, zet sendiri, cetak sendiri, jual sendiri…,” tulis Amin.

Kerajaan Parada benar-benar habis ketika balatentara Jepang mendepak Belanda dari Indonesia pada 1942. Tiga bulan setelah pendudukan, Tjaja Timoer dipaksa tutup. Sejak itu Parada tak pernah lagi bisa jadi raja media meski tak benar-benar meninggalkan dunia kewartawanan.
Selepas Indonesia merdeka, ia bergabung dengan Departemen Penerangan dan dipercaya mengelola hubungan pemerintah dan pers. Menurut M. Sjafe’i Hassanbasari dalam “Pers dan DPR, Riwayatmu Ini” yang terbit di Kompas (31/8/1995), sumbangsih Parada yang mencolok adalah kala ia membikin apa yang kini dikenal sebagai press room di DPR RIS pada 1950.

“Inilah kehadiran pertama suatu tempat khusus bagi wartawan berkumpul dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Dengan bantuan Panitera Parlemen, kegiatan sidang-sidang Parlemen RIS dihimpun dalam bentuk Ichtisar Parlemen yang selanjutnya disajikan kepada pers untuk kemudian disebarluaskan ke masyarakat,” tulis Sjafe’i.

Di masa senjanya, ia beralih profesi jadi pengajar. Bersama beberapa rekan sejawat, Parada merintis berdirinya Perguruan Tinggi Ilmu Kewartawanan dan Politik. Ia meninggal pada 11 Mei 1959, tepat hari ini 60 tahun lalu, hanya beberapa saat usai mengajar para calon wartawan muda yang bakal jadi penerusnya.(*)

Tags: Nama Gedung PWI SumutParada Harahap
Share1Tweet1SendShare
ADVERTISEMENT

Berita Terkait

NASIONAL

Rapat Paripurna Dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Ruangan Rapat DPRD OKI

20/08/2026

Kayuagung,Nusnet.news- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ( DPRD ) Kabupaten Ogan Komering Ilir ( OKI ) Mendengar Pidato Kenegaraan Jum"at (17/8/2026)....

Read more
NASIONAL

Danrem 022/PT Dampingi Pangdam l/BB Kunjungan Kerja Ke Kodim 0207/Simalungun

19/08/2026

Simalungun, Nusnet.news- Danrem 022/Pantai Timur Kolonel Inf Sandi Kamidianto, S.I.P., M.I.P., dampingi Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendy Antariksa, melaksanakan...

Read more
NASIONAL

Danrem 022/PT Dampingi Pangdam I/BB Kunjungi Kodim 0203/Langkat, Tekankan Disiplin Prajurit dan Kemanunggalan TNI-Rakyat

31/07/2026

Binjai, Nusnet.news- Komandan Korem (Danrem) 022/Pantai Timur Kolonel Inf Sandi Kamidianto, S.I.P., M.I.P., mendampingi Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendy...

Read more
ARTIKEL

Pimred Nusantara Netizen.News Ajak Publik Kokohkan Nilai Pancasila di Hari Lahirnya 1 Juni 2026

01/06/2026

Aceh, Nusnet.News–Menyambut Hari Lahir Pancasila, Minggu 1 Juni 2026, Pimpinan Redaksi Nusantara Netizen.id Wiwin Hendra mengajak seluruh anak bangsa mengamalkan...

Read more

Berita Terbaru

TNI

Pasutri di Dusun Wonosari Gembira Sambut Hangat Satgas TMMD ke-130 Kodim 0209/Labuhanbatu

17 Oktober 2026 | 22:32 WIB
OLAHRAGA

Difasilitasi KONI Labuhanbatu, Atlit Tenis meja Labuhanbatu siap Tempur di Ajang Porovpsu

17 Oktober 2026 | 22:02 WIB
Berita

Kapolres Labuhanbatu Pimpin Langsung Operasi Sarang Narkoba, Dua Pria Diamankan Bersama 20,36 Gram Sabu

17 Oktober 2026 | 21:59 WIB
Labuhanbatu

Difasilitasi KONI Labuhanbatu, Atlit Tenis meja Labuhanbatu Siap Tempur di Ajang Porovpsu

17 Oktober 2026 | 21:50 WIB
Labuhanbatu

KONI Labuhanbatu Matangkan Persiapan, 176 Atlet Siap Berlaga di Porprovsu 2026

17 Oktober 2026 | 20:06 WIB
Labuhanbatu

Kapolres Labuhanbatu Pimpin Langsung Operasi Sarang Narkoba, Dua Pria Diamankan Bersama 20,36 Gram Sabu

17 Oktober 2026 | 20:04 WIB
TNI

Persiapkan Penampungan Air, Satgas TMMD ke-130 Pasang Tandon di Dusun Kandang Motor

17 Oktober 2026 | 09:36 WIB
TNI

TMMD ke-130 Kodim 0209/Labuhanbatu Bangun Hunian Layak bagi Dorima Marbun di Aek Batu

17 Oktober 2026 | 09:25 WIB
TNI

Wujudkan Senyum Tukirin, Satgas TMMD ke-130 Bantu Rumah Layak Huni dan Administrasi Kependudukan

17 Oktober 2026 | 09:16 WIB
TNI

Gotong Royong TNI dan Masyarakat, Pengecatan MCK Gereja GKPI Cikampak Terus Berlanjut

16 Oktober 2026 | 21:04 WIB
TNI

Antrean Padat Warnai Pengobatan Gratis TMMD ke-130, Tenaga Medis Tetap Sigap Layani Warga

16 Oktober 2026 | 17:04 WIB
TNI

Bentuk Kepedulian, Dansatgas Letkol Kav Hanung Kaptiaji Bangun MCK Gereja GKPI Lewat TMMD Ke-130 di Torgamba

16 Oktober 2026 | 14:11 WIB

barak barak barak barak barak barak

  • Redaksi
  • Pedoman
  • Karir
  • Kode Etik
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers
  • SOP Wartawan

©2021-2024 Nusnet.news

rotasi barak berita hari ini danau tobaberita

No Result
View All Result
  • INDEKS
  • TRENDING
  • PERISTIWA
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • LINGKUNGAN

©2021-2024 Nusnet.news

rotasi barak berita hari ini danau tobaberita